Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Kinantan

  Kinantan Aku bahkan tak tahu lelaki mana yang sanggup mendampingimu. Di sekitar kita, tak ada yang tepat mendampingimu selain aku.  Di genggaman tanganmu, tak ada yang lebih menenangkan dari jari-jemariku. Lelaki di sekitar kita itu tak sanggup menandingi pengetahuanmu. Juga tak akan sanggup mengimbangi obrolan-obrolan yang kau lontarkan. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan perhatianmu. Bukan berserius seperti aku yang akan melakukan apa pun. Di sajak-sajak tempatku mengabadikanmu, aku akan menjadi paling egois dan paling sanggup menemanimu. Mengobatimu dari patah hati yang disebabkan lelaki bajingan tak tau diri itu. Yang merasa hidupnya lebih baik darimu. Yang merasa akan menjadi lelaki hebat di masa mendatang.  Tapi Kinantan, jika aku saja tak sanggup bersanding denganmu -tepatnya kau tidak mau- maka lelaki yang akan menyandingmu hanyalah lelaki yang hidupnya dipenuhi canda tawa tanpa berfikir bahwa suatu hari, jika memang Ia sangat mencintaimu, Ia harus mengh...

selalu

 Aku masih tak habis pikir. Bagaimana bisa manusia sesederhana dirimu memikatku berulang kali? Menjadi tempat kembali yang tak bisa kutinggalkan setelah berulang kali aku mencoba. Lagi dan lagi. Aku selalu semakin terpikat setelah berusaha pergi darimu dan gagal melakukannya. Senyum yang seringkali melekat di bibirmu itu bukan hal paling indah yang pernah kusaksikan. Nada-nada yang kau ucap dengan sebegitu merdunya juga bukan hal yang paling menenangkanku. Apalagi genggam tanganmu yang tak pernah kurasakan. Tentu. Aku tak mau selalu terjebak di bola matamu,di antara matahari tenggelam dan lautan, di antara teh manis dingin yang tak pernah kau habiskan. Juga di antara obrolan-obrolanmu yang tak melibatkan aku.  Aku mendambamu.     selalu.  -awang pramudya