Nona, pada hening malam yang dingin dengan sedikit hujan di antara kita. Aku ingin mendengar cerita-ceritamu lagi. Meski di antara patah suara yang sesekali terjadi, Aku ingin kembali menjadi pendengar paling baik malam itu. Melempar satu dua candaan yang membuatmu tertawa meski tak sengaja. Aku ingin membawamu pada tenang malam di antara bintang-bintang yang sedang terjatuh hingga kau sandarkan bahumu di antara cerita-ceritaku. Hingga kau didatangi kantuk yang sebegitu melelapkanmu. Aku ingin menggenggam jemarimu. Di antara pertemuan kita, Di hadapan teman-temanmu. Aku ingin membawamu pada malam kota kita. Pada canda tawa muda-mudi di pusat kota. Pada sadar para pria akan cantikmu. Pada kesal mereka sebab kau milikku.
Kinantan Aku bahkan tak tahu lelaki mana yang sanggup mendampingimu. Di sekitar kita, tak ada yang tepat mendampingimu selain aku. Di genggaman tanganmu, tak ada yang lebih menenangkan dari jari-jemariku. Lelaki di sekitar kita itu tak sanggup menandingi pengetahuanmu. Juga tak akan sanggup mengimbangi obrolan-obrolan yang kau lontarkan. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan perhatianmu. Bukan berserius seperti aku yang akan melakukan apa pun. Di sajak-sajak tempatku mengabadikanmu, aku akan menjadi paling egois dan paling sanggup menemanimu. Mengobatimu dari patah hati yang disebabkan lelaki bajingan tak tau diri itu. Yang merasa hidupnya lebih baik darimu. Yang merasa akan menjadi lelaki hebat di masa mendatang. Tapi Kinantan, jika aku saja tak sanggup bersanding denganmu -tepatnya kau tidak mau- maka lelaki yang akan menyandingmu hanyalah lelaki yang hidupnya dipenuhi canda tawa tanpa berfikir bahwa suatu hari, jika memang Ia sangat mencintaimu, Ia harus mengh...