Langsung ke konten utama

Kinantan

 Kinantan

Aku bahkan tak tahu lelaki mana yang sanggup mendampingimu. Di sekitar kita, tak ada yang tepat mendampingimu selain aku.  Di genggaman tanganmu, tak ada yang lebih menenangkan dari jari-jemariku.

Lelaki di sekitar kita itu tak sanggup menandingi pengetahuanmu. Juga tak akan sanggup mengimbangi obrolan-obrolan yang kau lontarkan. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan perhatianmu. Bukan berserius seperti aku yang akan melakukan apa pun.

Di sajak-sajak tempatku mengabadikanmu, aku akan menjadi paling egois dan paling sanggup menemanimu. Mengobatimu dari patah hati yang disebabkan lelaki bajingan tak tau diri itu. Yang merasa hidupnya lebih baik darimu. Yang merasa akan menjadi lelaki hebat di masa mendatang. 

Tapi Kinantan, jika aku saja tak sanggup bersanding denganmu -tepatnya kau tidak mau- maka lelaki yang akan menyandingmu hanyalah lelaki yang hidupnya dipenuhi canda tawa tanpa berfikir bahwa suatu hari, jika memang Ia sangat mencintaimu, Ia harus menghidupimu dengan menata masa depannya dahulu.

Setidaknya aku, 

manusia paling egois dalam ingin menyandingmu.

Dalam tulisan-tulisan ini, Kinantan, kisah kita abadi. 

Meski tak pernah terjadi.

-Awang Pramudya

Komentar